PEMANFAATAN BURUNG HANTU UNTUK MENGENDALIKAN TIKUS DI KECAMATAN SEMBORO KABUPATEN JEMBER

Nanang Tri Haryadi, Moh. Wildan Jadmiko, Titin Agustina

Permasalahan tikus yang menyerang tanaman petani padi di Kecamatan Semboro terjadi mulai tahun 2011 dan pada tahun 2014, luas serangan mencapai 113 Ha. Serangan tikus ini telah menyebabkan petani mengalami kegagalan panen. Pengendalian tikus yang dilakukan kelompok tani, selama ini belum menunjukkan keberhasilan yang memuaskan. Upaya pengendalian tikus telah dilakukan petani yang dibantu petugas penyuluh lapang (PPL) seperti gropyokan, teknik emposan, dan menggunakan jebakan (trap), namun masih belum berhasil. Oleh karena itu perlu adanya solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan memanfaatkan musuh alami tikus yaitu burung hantu (Tyto alba). Teknik pengendalian menggunakan burung hantu ini masih belum dikenal dan diterapkan oleh gapoktan di Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan petani tentang bagaimana cara memanfaatkan burung hantu serta kurangnya sosialisasi tentang pentingnya burung hantu untuk mengendalikan tikus. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan dan target kegiatan ini yaitu dengan melakukan penyuluhan pentingnya kebersamaan yang terorganisir dengan baik dalam  mengendalikan tikus yang melibatkan masyarakat, dinas terkait, dan perguruan tinggi, penyuluhan pengenalan biologi tikus, biologi burung hantu, dan praktek pembuatan pagupon burung hantu, praktek penangkaran burung hantu dan praktek pengendalian dengan menggunakan menggunakan burung hantu. Keluaran kegiatan ini yaitu terbentuknya rumah-rumah burung hantu yang dipasang di areal persawahan padi pada masing-masing gapoktan di Kecamatan Semboro. Kegiatan ini diharapkan dalam jangka panjang mampu menurunkan populasi tikus, sehingga produksi padi di Kecamatan Semboro dapat meningkat. Hasil yang dicapai yaitu petani memahami tentang bioekologi tikus, Bioekologi Burung hantu, Cara menangkarkan burung hantu, Cara membuat Rumah burung hantu dan teknik aplikasi burung hantu untuk mengendalikan tikus.

 

IbM Pembuatan Insektarium dan Embedding Serangga Menjadi Souvenir

Nanang Tri Haryadi dan Hari Purnomo

Indonesia merupakan Negara yang mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat melimpah, terutama keanekaragaman spesies serangga. Kekayaan alam ini banyak dimanfaatkan oleh manusia untuk membuat bisnis yang menarik dan menjanjikan keuntungan yang besar, dengan cara menangkap serangga-serangga tertentu secara liar untuk dijual di luar negeri seperti Negara Jepang, Korea dan Taiwan. Di Kabupaten Jember, usaha penangkapan serangga-serangga dari alam seperti kupu-kupu dan kumbang bertanduk telah banyak dilakukan oleh masyarakat. Kegiatan penangkapan ini tentunya akan berdampak negatif terhadap keragaman spesies serangga di alam dan lambat laun akan terjadi kepunahan spesies serangga kupu-kupu dan Kumbang bertanduk terutama di Kabupaten Jember. Serangga-serangga tertentu seperti kupu-kupu memiliki nilai penting, yaitu sebagai penyerbuk pada proses pembuahan bunga. Hal ini  secara ekologis turut memberi andil dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati. Permasalahan yang dihadapi mitra yaitu Mitra masih belum mengetahui bahwa memanfaatkan satwa dari alam yang dilindungi harus mendapatkan ijin dari pemerintah, mitra selama ini belum mengetahui bagaimana cara untuk menangkarkan atau memperbanyak serangga sendiri, mitra belum mengetahui cara mengawetkan serangga secara benar, kedua mitra masih belum mengetahui teknologi bagaimana cara membuat souvenir yang bahannya dari serangga dengan menggunakan metode embedding, seperti membuat gantungan kunci yang isinya dari serangga, yang dapat dijual sebagai souvenir. Oleh karena itu kegiatan Iptek bagi Masyarakat (IbM) ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kepunahan serangga di alam akibat penangkapan serangga secara liar, dengan cara melatih mitra membuat penangkaran serangga. Kegiatan IbM ini juga bertujuan melatih mitra untuk berkarya membuat awetan serangga kering dan membuat embedding serangga untuk dijadikan souvenir. Keluaran dari kegiatan ini yaitu mitra dapat menangkarkan serangga sendiri sehingga terbentuk rumah penangkaran serangga di lokasi mitra yang mungkin akan menjadi kebun penangkaran pertama di Kabupaten Jember, terwujudnya aneka awetan serangga kering hasil dari penangkaran sendiri dan souvenir yang terbuat dari serangga yang diawetkan dengan metode embedding.p1080505

PERANAN JUVENILE HORMON PADA SERANGGA

ABSTRAK

Review ini akan menjelaskan tentang beberapa peran penting juvenile hormon (JH)  pada serangga. JH merupakan hormon yang mempunyai banyak peranan dalam mengatur proses-proses fisiologi serangga. JH mempunyai beberapa peranan yang besar terutama dalam mengontrol pertumbuhan dan perkembangan serangga. Peranan yang lain dari JH yaitu mengontrol berbagai aspek reproduksi imago serangga, mengontrol diapause, perilaku migratory, polyphenism dan polymorphism serangga, penentuan kasta pada serangga-serangga sosial antara lain ordo Hymenoptera (semut, lebah dan wasp) dan ordo Isoptera (rayap); dan perkembangan tanduk pada kumbang.

KATA KUNCI : Juvenile Hormon (JH), Metomorfosis, Polymorphism, Polyphenism

 PENDAHULUAN

Pertumbuhan serangga merupakan proses yang terjadi mulai dari telur sampai menjadi imago. Proses pertumbuhan dan perkembangan serangga terjadi dalam dua tahapan yaitu (a) tahap perkembangan embrionik yang terjadi di dalam telur dan (b) tahap perkembangan pasca embrionik, yang terjadi setelah serangga menetas dari telur. Pada tahap perkembangan pasca embrionik, serangga akan mengalami proses perubahan bentuk dan ukuran yang sering disebut sebagai metamorfosis. Pada proses metamorfosis, serangga akan berubah bentuk mulai dari telur menjadi larva, larva menjadi pupa dan pupa akan menjadi imago. Pada umumnya setelah menetas, serangga secara periodik akan melakukan proses ganti kulit yang disebut moulting, sebagai contoh serangga berubah menjadi larva instar I, larva instar II dan seterusnya. Pada proses ini eksoskeleton akan diganti dengan kulit yang baru, sehingga serangga dapat tumbuh dan berkembang. Jumlah moulting pada serangga bervariasi tergantung dari jenis serangga.

Dalam proses ganti kulit menjadi larva instar II kemudian menjadi instar III dan seterusnya atau akan berubah menjadi pupa dan imago, sangat ditentukan oleh peranan hormon yang terdapat pada serangga. Hormon ini akan mengatur kapan serangga mengalami moulting, kapan akan berubah menjadi pupa atau kapan akan berubah menjadi dewasa. Salah satu hormon yang berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembanan serangga yaitu juvenile hormon (JH).

Pada review ini akan membahas tentang peranan JH pada proses-proses fisiologi serangga antara lain peranan JH dalam mengontrol proses perkembangan dan pertumbuhan serangga dan peranan JH pada polyphenism dan polymorphism serangga. Beberapa peranan JH antara lain berperan dalam mengontrol pemasakan ovari, pembentukan tanduk pada kumbang dan berperan dalam penentuan kasta pada serangga-serangga sosial seperti lebah madu dan rayap.

Continue reading